Sepotong Episode
Entah ini curahan ke berapa yang berisi tentangmu, seseorang yang masih saja menjebakku dalam angan.
Hari ini, untuk kesekian kalinya rinduku menyeruak. Lagi
dan lagi, suara khayal memenuhi otakku. Percakapan yang dengan
sendirinya melayang layang mengikuti irama khayal bergelayut dengan
khidmat bersama lamunku. Aku rindu.
Kau tau? Terkadang aku ingin menyapa, memulai percakapan singkat denganmu. Dan aku tak melakukan itu.
Maka biar. Biarlah semua mengalir mengukuti alunan takdir
yang entah akan mempersatukan raga kita atau memisahkan. Kita tidak tahu
apa yang akan terjadi esok.
Jika kau bertanya tanya apakah aku menginginkan bersama,
maka ya aku menginginkannya. Kemudian jika kau menerka aku akan
menanyakan hal itu padamu, maka tidak, aku tidak akan. Karena
menyakitkan apabila kau juga mengingkannya namun takdir tak berpihak.
Akan lebih baik ketika kau tidak menginginkannya dan takdir tak ingin
jua.
Sesekali aku teringat akan masa lampau ketika kita masih
bersama, baik sebagai kawan dekat maupun sebagai... ah entahlah aku tak
ingin menuliskannya. Kau tau, jika aku bisa kembali ke masa itu, aku
akan memilih menjadi sahabatmu, kawan dekatmu. Dan bukan perubahan
status itu yang kusesalkan, namun ketika aku menyadari bahwa yang kita
jalani saat itu adalah kesalahan yang mendahului takdir, sedang aku
tidak mampu memperbaikinya.
Beberapa kali aku mencobanya, berusaha mengembalikan
keadaan seperti sedia kala. Bukankah kita sama sama menyadari akan hal
yang pernah kita jalani bersama adalah sebuah kesalahan? Tetapi entah
mengapa ketika aku tengah memulai untuk mengembalikan apa yang pernah
ada selalu menemui kegagalan.
Aku ingin memulainya seperti pada awal kita saling mengenal. Kawan baik, karib, sahabat dekat, itu yang ingin ku pulihkan.
Ya, aku pernah mematahkanmu. Dan kau pun harus tau bahwa bukan hanya dirimu, aku pun turut patah.
Hingga saat ini aku tetaplah aku yang benci menyaksikan
gadis lain dekat denganmu melebihi diriku. Dan aku sangat membencimu
ketika kau berusaha menampakan itu dihadapanku. Sungguh, aku berusaha
menjaga perasaanmu ketika aku jatuh pada seseorang terlepas kau peduli
atau tidak.
Sungguh kali ini aku tengah menahan diri untuk tidak
menyapamu. Karena sejauh ini yang ku ketahui bahwa ketika kita mulai
bercengkrama itu akan berakhir menyakitkan bagiku.
Aku menyadarinya, bahwa memperbaiki sesuatu yang retak tidaklah mudah. Dan aku kurang bersabar.
Kau tau, aku amat sangat menghindari bertemu denganmu
meskipun tanpa disengaja. Entahlah, ada sedikit rasa takut yang tak ku
ketahui penyebabnya.
Dan jika kau melihat ini, kuharap kau tidak memberi
tanggapan apapun. Tetaplah berdiam dan jika kita memang harus
dipertemukan, tak perlu kau singgung. Lupakan rentetan bait bait ku.
lupakan deretan sajakku yang kali ini masih tentangmu.
Baiklah, Terimakasih.
selamat malam.
selamat malam.
05/10/17 at 23.35 WIB



Komentar
Posting Komentar